Ahmaddahri.my.id - Saat itu, kita bersaksi kepada Tuhan sebelum terlahir ke Dunia, bahkan menyepakati ragam keharusan yang nantinya diemban oleh kita sebagai manusia. Ini menjadi rahmat yang luar biasa karena kita diberi kesempatan menghamba kepadaNya melalui jalan sebagai manusia. Perlu dipahami bahwa manusia dibekali dengan ketertarikan pada lawan jenisnya, pada dunia dan kemelekatannya, pada rasa bangga akan anak turunnya, pada rasa gumede atas segala bangunan dan capaiannya. Itu semua adalah rahmat yang diberikan olehNya. Pun juga warning agar hati-hati dalam melangkah.
Semua hal itu tergantung bagaimana jalan penghambaannya. Mengabdikan diri kepada Tuhan dalam berbagai bentuk perjalanan adalah sebuah kesadaran titah. Bahkan kesadaran itu kerap timbul tenggelam bersama dengan rangkaian perjumpaan dan peristiwa yang kita alami. Seorang Teologiawan Oxford Philip Bob menyatakan bahwa memahami teologi atau memahami pengetahuan tentang Tuhan berakar atas dasar pengetahuan interpretasi, pengalaman dan pengamalan. Kebanyakan, titah atau makhluk itu terhenti pada ragam interpretasi semata. Koyok yok yok o.
![]() |
Sumber: Duniawayang |
Artinya, kita dapat memahami dan menyadari Kekuasaan Tuhan dengan menginterpretasikannya dalam ragam cipataan dan kekayaan alam, lalu menautkannya dengan pengalaman pengetahuan, serta mengamalkan hikmah yang dijumpainya. Bukan semata-mata menerima dogma, melainkan merenungkannya dan memahaminya secara mendalam. Kalimat yang kerap kali diutarakan Semar adalah "Aja Dumeh, Eling Lan Waspada".
Sepintas dapat kita pahami bahwa manusia ini semata-mata titah yang lemah, tugasnya adalah menghamba kepada Tuhan, waspada terhadap rangkaian kepastian akan godaan atau cubo. Godaan terbesar manusia adalah lupa atas dirinya sendiri, mudah terombang ambingkan oleh hawa nafsu yang melekat. Kendalinya kerap luput dari genggaman. Akal dan Hati kerap tidak nyambung dalam menghadapi ragam godaan dan jebakan hidup.
Kalaupun Ibnu Athailah Al-Askandari dalam Hikamnya menjelaskan tentang Idhfin wujudaka semata-mata kita sebagai manusia jangan sampai mengambil alih peran Tuhan. Menentukan segala keberhasilan, segala capaian bahkan kerap mengusik hati dengan iri dengki atas kehidupan titah lain. Sehingga kerap kali jealous terhadap orang lain, sehingga hatinya mudah terjebak oleh kondisi di luar titahNya. Kehidupannya penuh dengan "seakan-akan" dan mudah overthingking. Merasa tidak disayangi, merasa sendiri, dan kerap tertutup atas ragam pandangan orang lain.
Semar dalam pewayangan dan tradisi pengetahuan jawa kerap menjadi patron dari kebesaran dan keluasan jiwa. Tentu tidak terikat oleh berbagai lawatan dan kemelekatan dunia. Ia dengan besar hati meminta kepada Sang Hyang Tunggal untuk menjadi Semar dan meninggalkan titah sang Hyang Badranaya dan Ismaya. Ia besar hatinya meninggalkan jati diri sebagai Sesepuh Kayangan, sebagai interpretasinya ia rela meninggalkan jabatan dalam sebuah instantansi tertinggi dalam kasta kehidupan manusia. Menjadi punakawan.
Memang ia Lurah, lurang karangkadempel, tetapi ia bukan Lurah dalam artian yang sebenarnya. Ia sebatas sesepuh, tokoh masyarakat. Belajar pada perspektif ini maka menumbuhkan jiwa besar dan kedalaman berpikir bukan semata membalikkan tangan, melainkan lebih dalam dan lebih keras lagi menempa diri. Tapa ing rame, bukan semata-mata menahan diri, tetapi juga menahan laju kecenderungan yang dimiliki. Oleh karena itu, wujud perilaku harus serujuk dan senafas dengan prinsip gagasan serta ketajaman ruhani.
Yang namanya perjalanan, pasti akan berjumpa dengan berbagai medan dan rintangan. Ini wajar dan sangat fitrah sekali. Masalahnya adalah menipu diri sendiri dengan menyangka bahwa hidup yang dilalui seakan-akan adalah kapasitas dirinya. Kecakapan dan kecerdasan memang Rahmat dariNya, pun artinya tidak musti diri sendiri yang menggerakkan, ia akan dia ketika dikehendaki diam olehNya, seperti itu juga gerak dan lampah. Dalam kacamata sosial tentu perlu nggenah, bener tur pener konsep dan pengamalan dalam pranata sosialnya. Kita mafhum dengan pandangan sandang, pangan, papan, atau dalam tradisi jawa kuno dikenal dengan desa, kala, patra.
Prinsip kesepahaman dengan sesama manusia dan alam semesta perlu dipupuk sedemikian rupa. Agar makna keberpihakan, makna kepekaan, bukan lagi berimplikasi pada kalimat "seakan-akan" tetapi ya benar adanya demikian. Memang berat, tetapi kita sebagai titah agaknya sudah dinaskan agar berupaya sekuat mungkin, sehingga Tuhan menempani ragam upaya itu.[]
0 Komentar